KETIKA
TERPANGGIL
Daun-daun
berguguran
Berbaring
diatas bumi
Sesekali
bergeser tertiup angin
Lama
kupandangangi dalam detik dan jam
Tampa kusadari sisa air mata
Yang pernah terkuras banyak
Juga berguguran
Jatuh membasahi bumi
Tertatap
masa silam
Diantara
jendela memori yang menyedihkan
Sebuah
perpisahan abadi
Menghadiahkan
kesedihan mendalam
Disana ayahanda berbaring
Menutup mata, melipat tangan
Tak lagi ia nikmati udara segar pagi
itu
Tak
mungkin waktu yang menjadi musuh
Pun usiamu
belum senja hingga Tanya menghujani waktu
Mengapakah?
Bukan kehendakku
Kehendak-Nyalah
oleh.
Toga muda sagala
mahasiswa
FIB/USU
TEMBANG
LAMA
Kembali
kubuka lembaran kertas
Yang
sedari dulu terlipat dan kusimpan
Dalam
lemari using penuh debu
Dan
rapuh
Disana kutulis bukan apa-apa
Hanya seuntai kalimat sederhana
Yang mungkin bagimu tak bermakna
Sudah, tak usah kau perduli
Merenung
saja yang kulakukan dari tadi
Mengulas
sebuah lubang waktu
Yang hampir
tertutup rapat disantap
oleh usia yang semakin larut
hingga dadaku tak lagi kekar
rambutku mulai pudar
oleh siraman waktu yang menetes
berpacu dengan detak waktu yang
panjang
sudahlah
..
kini
tinggal kujalani saja sisa waktu
yang berputar di sebuah bundaran jalan
dikeremangan senja
oleh. Toga
muda sagala
mahasiswa
FIB/USU
MIMPI
DISIANG BOLONG
Belum
juga selesai kudaki gunung
Yang
terpampang didadamu
Lahar
dan api telah membakar sekujur
Tubuh
dan jiwaku
Oleh. Toga muda sagala
Mahasiswa FIB/USU
MALAM
DIKEGELAPAN
Dan apa
lagi yang kau tunggu
Dadaku
sudah siap menerima
Tancapan
pedang tajam yang lama telah kau asah
Apa
susahnya?
Tinggal
kau layangkan saja tepat kedadaku
Cepat
kau hantarkan jiwaku pada malam dikegelapan
Aku
sangat lelah mengintari waktu yang terus saja menjauh
Penat
sudah kurasakan berpacu bersama waktu yang sangat panjang
Oleh. Toga
muda sagala
Masiswa
FIB/USU
KUTULISKAN
SAJAK PADAMU
Ingin
kutuliskan sebuah sajak padamu
Yang
selalu mengukir senyum setiap langkah kecilku bertemu denganmu
Disaat
waktu menghendaki dan ikhlas
Kusapa dan kubalas senyum yang
engkau biaskan
Bersama sinar mentari pagi itu dan
aku sungguh terpesona
Bagaimana tidak?
Hembusan
angin pun bangga telah membelai rambut indahmu
Yang
berkilauan dibawah sinar mentari
Pagi pun
ikut mengikhlaskan kesegarannya untukmu
Burung
telah sumbangkan kicauannya tuk hibur jiwaku
Hingga aku pun ingin hadiahkan
sebuah kotak berisi sajak
Tentang cintaku padamu yang kubingkai pada untaian kata indah
Seindah mata yang kau miliki
Oleh. Toga
muda sagala
Mahasiswa